RSS

Jumat, 03 Desember 2010

Apakah Saya Pantas Hidup?

Apalah saya pantas hidup???

Ini adalah sebuah pertanyaan, ketika kita sedang berada di posisi yang putus asa dalam menjalani cobaan hidup. Mungkin sebagian besar bahkan saya sekali pun pernah berpikir dan bertanya hal ini pada diri kita, orang lain, bahkan Tuhan sekali pun. Padahal kalau ditinjau lebih dalam, ga sebaiknya kita berpikir seperti itu. 

Kalau saja semua manusia bisa berpikir dan melihat dari cara Tuhan berpikir, kalimat ini ga akan terlontarkan dari bibir kita. Tuhan menciptakan dan membawa kita kepada sebuah kehidupan karena Tuhan memiliki tujuan yang sama bagi umat-Nya namun dengan cara yang berbeda-beda. Ia ingin manusia bisa mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang membawa manusia menuju ke arah-Nya, entah itu melalui cobaan (test) atau pemberian (gift). 

Jika seorang manusia cukup bisa mensyukuri apa yang Tuhan berikan selama ini padanya, maka Tuhan lebih banyak memberikannya gifts agar manusia selalu mensyukuri dan mengingat siapa si pemberi itu (ini membuat manusia melakukan tugasnya). Namun jika manusia tersebut jarang atau bahkan tidak pernah mensyukuri apa yg Tuhan berikan pada-Nya maka Tuhan lebih banyak memberikan tests pada manusia tersebut agar ia dapat melihat dengan jelas siapa yang paling berkuasa di muka bumi ini, sehingga manusia bisa mengerti dan mengingat siapa bossnya dan merubah dirinya menjadi manusia yang lebih bisa bersyukur, bukan malah menginginkan atau bahkan menuntut hal yang lebih lagi dalam hidupnya.
 
Saya justru merasa sering berada di posisi manusia jenis pertama, Tuhan memberikan banyak berkat untuk saya. Tapi saking banyaknya berkat itu, saya justru merasa tidak pantas mendapatkan berkat-berkat tersebut. Well, untuk manusia jenis pertama, saya pikir salah seorang sahabat saya memberikan alasan mengapa kita tidak merasa pantas atas berkat dan kehidupan yang Tuhan berikan pada kita, hal itu dikarenakan kita tidak bisa menghargai diri kita sendiri.  Untuk itu, kita harus bisa lebih menghargai diri kita sendiri, karena hal inilah yang ternyata menjadi hambatan bagi seseorang untuk bisa bersyukur dan melaksanakan tujuan hidupnya. Saking banyaknya berkat sehingga tidak bisa menghargai diri sendiri,   jadi ayo katakan pada diri kita sendiri dan orang-orang di sekeliling kita bahwa "Anda pantas mendapatkan berkat dan suatu kehidupan!" Hargai diri kita dengan mencintai diri kita, merawat diri kita dan bersyukur apa yang Tuhan berikan pada kita.

Bagaimana untuk manusia jenis kedua dengan testsnya? Saya pikir manusia jenis ini harus memulai untuk melihat ke bawah ketika dihadapi dengan berbagai macam ujian, bukan justru terus melihat ke atas. Yang artinya adalah bahwa manusia jenis pertama, harus bisa membandingkan dirinya dengan manusia yang kurang terbekati lainnya yang bahkan ujian-ujiannya jauh lebih berat daripada ujian-ujian yang Tuhan berikan dalam hidupnya dan bukan justru membandingkan dirinya dengan orang lain yang menurut dirinya lebih bahagia dibandingkan dirinya, ini hanya akan membuat beban dan menambah dosa saja seperti iri hati, cemburu, pesimis dan bahkan dendam. Hal ini dimaksudkan agar ia bisa lebih bersyukur atas apa yang Tuhan berikan padanya dan bahwa ujiannya tidaklah seberapa dibandingkan orang lain. Dengan sendirinya, ketika rasa syukur datang pasti datang pula rasa pasrah dan penyesalan yang akan membuat Tuhan mulai mengurangi sedikit demi sedikit test yang harus dialami manusia jenis pertama ini dan bukanlah tidak mungkin, manusia jenis pertama ini bisa menjadi manusia jenis kedua. 

Salah seorang sahabat saya yang lain (miss e) bahkan memberikan alasan biologis yang menurut saya lucu tentang mengapa kita pantas hidup sebagai manusia. Ia mengatakan bahwa dari sekian banyaknya sel sperma yang mengunjungi sel telur orang tua kita, hanya ada satu sel sperma yang benar-benar dapat bertahan dalam ovum/ovarium dan terpilih untuk berhak menjalani suatu kehidupan, dan itu adalah kita. Kalau saja kita tidak pantas untuk hidup, mungkin kita merupakan salah satu dari sekian banyaknya sel sperma yang gagal atau bahkan ketika kita dalam kandungan kita sudah tidak dapat bertahan dan tidak dapat merasakan kehidupan. Inilah alasan biologis yang dikemukakan oleh sahabat saya mengapa setiap orang di muka bumi ini pantas untuk hidup.

Intinya adalah setiap manusia baik manusia jenis apa pun diharapkan tidak hanya untuk menuntut hak tanpa benar-benar mengetahui sudahkah ia memberikan kewajibannya sebagai seorang manusia kepada penciptanya? Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita ini sudah menjalani atau belum menjalaninya, karena jujur saja Tuhan yang menilai itu dari setiap pemberian dan cobaan yang Tuhan berikan pada kita semua. Kalau dirasa cobaan kita terlalu banyak, maka berarti menurut-Nya kita belum maksimal menjalani kewajiban kita sebagai seorang manusia, yaitu mengisi kehidupan yang membawa kita ke hal-hal yang mengarah pada-Nya. Dan jika dirasa Tuhan tak henti-hentinya memberikan pemberian-Nya untuk kita, maka pertahankanlah atau bahkan tambahkanlah rasa syukur kita dan kepasrahan kita, agar selalu mengingat siapa "The Big Boss" kita sebenarnya.
Jadi berhentilah untuk mengatakan bahwa kita tidak pantas untuk hidup dengan apa pun alasan kalian, karena Tuhan punya alasan sendiri mengapa kita masih diberikan suatu kehidupan untuk dijalani dan setiap manusia di dunia ini pantas untuk hidup dan menjalani kehidupannya.

0 comments:

Posting Komentar

 
Copyright Positive Of Me 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .